BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.
Malam kamis lalu(8/1/1429 H) adalah malam pertemuan terakhir KAMISA untuk kepengurusan Bapak Letmiros. selama pertemuan rutin kamisa yang telah berlalu, banyak sekali hikmah, nasehat dan pelajaran yang kita peroleh, disamping tentu saja semakin eratnya ukhuwah islamiyah diantara kita.
Ada rasa sedih dengan kata pertemuan terakhir, kendatipun telah ada kepengurusan baru. namun, mudah-mudahan pertemuan seperti ini tetap berlanjut terus sekalipun mungkin dengan versi berbeda. bukan hanya di dunia, namun kita berharap berlanjut hingga kelak kita dikumpulkan oleh Allah dalam surganya dalam keadaan bersama-sama. amin.
Diantara pelajaran yang sangat berharga yang dapat kami ambil dari pertemuan kamisa, khusus pada pertemuan terakhir ini, nasehat yang dapat kami ambil selama menyimak berlangsungnya diskusi yaitu mengutip dari apa yang disampaikan para pemateri dan penanggap dengan beberapa tambahan dari kami : (selanjutnya bisa disimak di sini….)
- janganlah kita menganggap bahwa orang yang menjalankan sunnah zhohiriyyah (jgt,isbl,…,dll) adalah lebih baik dari yang belum menjalankannya. adalah sebuah kata hikmah yang kalau didalami sangat menggugah maknanya. seseorang tidaklah boleh beranggapan seperti itu, sebab yang membedakan kita semua ini dihadapan Allah hanyalah ketakwaan semata, dan takwa itu kata nabi, tempatnya di hati, yang tahu hanya kita dan Allah. sampai kepada orang yang sewaktu di dunia dikenal sangat takwa sekalipun, ketika wafatnya tidak boleh diantara kita beranggapan dia adalah ahli surga, sebaliknya pula tatkala kita melihat seorang ahli bermaksiat dan belum meninggal, pun tidak boleh kita menganggap orang itu kelak jadi penghuni neraka. sebab akhir hayat seseorang tiada yang tahu. adalah benar bahwa hal itu merupakan jalan untuk menuju kepada ketakwaan yang lebih baik dengan memelihara sunnah zhohiriyyah. Oleh karena itu bagi kita yang telah mampu menjalankannya , mari kita berdoa kiranya karunia Allah berupa hidayah taufik ini terpelihara dalam diri kita, sebab hidayah taufik itu milik Allah dan sewaktu-waktu dapat dicabut oleh-Nya, manakala yang diberi hidayah itu tidak bisa menjaganya. adapun bagi yang belum menjalankannya, kami yakin ada keinginan untuk itu, apalagi setelah membaca berbagai literatur dan mendalaminya disertai bertanya pada orang yang berilmu, apalagi setelah membaca postingan terbaru bertitel renungan I dan II, namun kapan waktunya? hanya kita sendiri yang tahu, yang pasti tetap selalu ada niat tuk menjalankannya sebab itu sudah jelas perintahnya. bukankah sudah termasuk sombong manakala ada perintah dari Allah lantas kami menolak. lagipula fisik kita ini kan dan semuanya milik Allah, kita hanya punya hak pakai. ibarat, kita meminjamkan laptop pada teman dan berpesan jangan buka file ini, tapi teman itu malah mebukanya dan memperlihatkannya pada semua orang. walillahi matsalul ‘ala. bagaimakah lagi dengan Allah pencipta sang pemilik laptop?
- adalah dikatakan sombong manakala berbuat demikian, akan tetapi bagaimana dengan orang yang mengklaim dirinya yang telah berbuat demikian adalah lebih baik?,sungguh ini merupakan sebuah kesombongan yang lebih menakutkan. sebab kelak nanti Allah akan lebih senang menerima kedatangan seorang hambaNya yang dahulunya berbuat maksiat lalu datang menghadapnya dengan taubat yang sesungguhnya, dibanding seorang yang dahulunya menjalankan amal kebaikan/sunnah lantas datang menghadap Allah dengan kesombongannya, dikiranya dengan amalannya itu ia dapat memasuki surganya Allah. ia terlena akan dosa-dosanya.
- Mentazkiyah diri, artinya menganggap diri suci. yah, fenomena ini sangat banyak melanda orang-orang yang nota bene katanya para pejuang dakwah
- Berputus asa dari rahmatNya. fenomena ini banyak melanda orang yang belum menjalankan agama secara sempurna. padahal hal ini justru dilarang agama, sebab rahmat dan ampunan Allah sangat luas bagi kita semua yang mau memohon ampun padanya lalu menjalankan syariahnya secara lebih baik.
- semua masalah yang kita belum paham, dikembalikannya hanya kepada Allah dan rasulNya. bukan pada si fulan, syaikh ini dan seterusnya. nah, untuk bisa memahami itu tentu kita semua harus banyak mengkajinya lebih dalam dengan banyak membaca dan bertanya. kebanyakan dari literatur agama kita masih asli bhs arab, alquran sendiri bahsa arab, sekalipun sudah ada terjemahanya. kalau demikian sembari belajar s2 dan s3, yuk mari kita manfaatkan pula sebagian waktu kita untuk belajar bahasa arab. disamping insya Allah kita bisa mengerti alqur’an tanpa baca terjemahan kitapun bisa mendalami sendiri ilmu agama kita yang bukunya masih berbahasa arab.
- perbedaan persepsi hanyalah dalam forum, janganlah sampai dihati. adalah sebuah kebiasaan dari para ulama kita, bahwa hal itu tidaklah kemudian menjadikan kita berbeda, sebab semua kita ini mencari kebenaran. sebagaian tidaklah boleh menganggap diri lebih baik atas sebagian yang lain.
- dalam menyampaikan materi hendaklah dipahami betul, agar tak keteteran saat diserbu pertanyaan. bukankah hal inipun menjadi kebiasaan para ulama kita, dan memang demikianlah seharusnya, apalagi ketika kita hendak menyampaikan presentase dihadapan kaum intelek, s2, s3, dll. sudah pastilah harus siap dibantai.
- dalam menyampaikan sesuatu hendaklah memotivasi dan jangan menghukumi. adalah kata hikmah yang sangat agung. bukankah nabi kita dalam berdakwah sangat lemah lembut?. sebab kelembutan itu tidaklah berada pada diri seseorang melainkan akan menghiasi pribadinya. dan nabi, adalah sosok paling lembut apalagi dalam menyampaikan sesuatu. bahkan terkadang seseorang masuk islam ditangan nabi tanpa melewati ceramah dan diskusi yang panjang, hanya dengan menyaksikan akhlak dan kerendahan hati nabi. subuhanallah
- sebaiknya jangan lagi diperdebatkan, karena itu hadits. adalah benar setiap yang datang dari hadits nabi yang shahih maka tugas kita adalah sami’na wa atha’na=kami dengan dan kami taati. namun bagi kita yang belum tahu dan belum paham, tentulah akan bertanya lebih jauh. apakah haditsnya shahih apa ga?gimana asbabul wurudnya? dll. yang demikian adalah hal yang wajar. dan bagi kita yang paham adalah memberi tahu dengan bijaksana. setelah menyampaikan, adalah menjadi kewajiban kami yang belum paham untuk mengkajinya.
- tidak semua ayat alqur’an maupun hadits ada asbabun nuzulnya atau asbabul wurudnya. apakah itu artinya ayat/hadits seperti ini mutlak perintah yang harus dilaksanakan, tanpa ada lagi diskusi panjang?.yuk, mari kita sama-sama mendalaminya dan mengkajinya bersama dan bertanya pada ustadz yang berkompeten dalam hal ini.
CONCLUTION :
Allah menciptakan kita beraneka ragam, suku dll. bertemu disini, KSU. semuanya atas kehendakNya. semua sama dimataNya kecuali yang taqwa, siapa itu? hanya Allah yang tahu.
mudah-mudahan kiranya bermanfaat untuk kita semua, saya akhiri dengan kata hikmah :
Abdul Aziz bin Umar berkata, Ayahku pernah berkata kepadaku, “Anakku, jika engkau mendengar ucapan dari seorang muslim, maka janganlah memahaminya secara negatif selama masih ada kemungkinan untuk dipahami secara positif.”
Apabila Bakar bin Abdullah al-Muzani melihat orang yang lebih tua, ia berkata, “Ia lebih baik dariku, karena Ia telah beribadah kepada Allah sebelumku.”
Apabila ia melihat orang yang lebih muda, ia berkata, “Ia lebih baik dariku, karena aku telah lebih dulu berbuat dosa sebelum Dia.”
alhamdulillah, salam dan sholawat kepada nabi shollallahu alaihi wasallam.